New York — JPMorgan Chase & Co., salah satu bank terbesar di dunia, menegaskan bahwa investasi besar dalam teknologi kecerdasan buatan (AI) menjadi fondasi utama strategi kompetitifnya di tahun 2026. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh CEO Jamie Dimon dalam panggilan pendapatan perusahaan baru-baru ini, di mana bank mengumumkan rencana peningkatan belanja teknologi secara signifikan.
Dimon menolak gagasan bahwa belanja besar tersebut adalah beban, dan menegaskan bahwa tanpa investasi agresif dalam AI, JPMorgan berisiko tertinggal dari pesaing tradisional maupun fintech seperti Stripe, SoFi, dan Revolut. Menurutnya, bank harus terus berada di “depan” dalam hal kemampuan teknologi.
Peningkatan belanja teknologi yang diproyeksikan mencapai sekitar $9,7 miliar pada 2026 dibandingkan 2025 merupakan bagian dari total anggaran teknologi yang diperkirakan sekitar $18 miliar per tahun. Sebagian besar kenaikan ini akan dialokasikan untuk memperluas penggunaan AI di berbagai fungsi bank termasuk otomasi proses internal, analisis data, dan sistem keputusan.
Salah satu wujud konkret investasi AI adalah peluncuran platform internal bernama Proxy IQ, yang dirancang untuk menggantikan layanan penasihat proxy eksternal dalam membuat rekomendasi voting pemegang saham. Ini menunjukkan langkah strategis bank dalam menggunakan AI bukan hanya untuk efisiensi operasional, tetapi juga untuk proses pengambilan keputusan yang sebelumnya dilakukan oleh pihak ketiga.
Selain itu, JPMorgan telah meluncurkan berbagai program pelatihan internal untuk memperkuat kemampuan staf dalam memanfaatkan teknologi AI, termasuk pelatihan penggunaan alat AI dalam tugas sehari-hari dan peluang pengalaman manajerial melalui pengawasan bot AI. Ini mencerminkan pendekatan bank yang melihat AI sebagai alat kolaboratif bagi manusia, bukan sekadar pengganti tenaga kerja.
Strategi AI ini dijalankan di tengah persaingan global yang intens, di mana bank besar lain seperti Citigroup dan Goldman Sachs juga meningkatkan investasi teknologi mereka. Namun JPMorgan mengambil posisi tegas bahwa AI merupakan salah satu faktor penentu keunggulan kompetitif jangka panjang, bukan sekadar tren sementara.